Asal-usul Nama Blora

Blora merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang terdapat di anggota paling timur, berbatasan segera bersama dengan Kabupaten Bojonegoro di Jawa Timur. Selama ini Kota Blora dikenal bersama dengan julukan Kota Satai, Kota Barongan, Kota Samin, dan Kota Kayu Jati. Konon, nama Blora sendiri diambil berasal dari kata Bhurara, yang bermakna tanah yang diberikan raja kepada seorang anak atau orang yang berjasa kepada negara. Namun, versi lain termasuk menjelaskan bahwa nama Blora berasal berasal dari kata Belor yang bermakna lumpur.

Berasal berasal dari kata Bhurara Menurut cerita rakyat, asal-usul nama Blora sanggup ditelusuri berasal dari kisah Prabu Airlangga, raja di Kahuripan, Jawa Timur, yang tetap melebarkan kekuasaannya. Prabu Airlangga sendiri memilik tiga orang anak. Anak pertama perempuan dan anak ke-2 dan juga ketiganya laki-laki.

Anak perempuannya, yang dicalonkan jadi penguasa selanjutnya, memangku jabatan sebagai Sanggramawijaya, jabatan tertinggi sehabis raja. Akan tetapi, ternyata putrinya tidak sudi menerima mahkota kerajaan. Alasannya adalah karena ia berkeinginan untuk jadi seorang brahmani (suatu golongan di dalam agama Hindu).

Sang putri dambakan mendalami mengenai agama dan hendak tinggal di lereng Gunung Penanggungan, karena ia merasa jadi brahmani adalah panggilan hidupnya. Ketika sadar bahwa putrinya menampik untuk mewarisi takhta kerajaan, Prabu Airlangga merasa bingung siapa yang akan menukar kedudukannya. Terlebih lagi, saat ke-2 anak laki laki Prabu Airlangga mendengar bahwa kakak perempuannya tidak bersedia jadi penguasa di Kahuripan, mereka saling berebut takhta.

Kian hari pertengkaran di pada keduanya jadi makin membesar, hingga merepotkan hati Prabu Airlangga. Sebagai solusinya, sang putri mengusulkan agar negeri Kahuripan dibagi jadi dua kerajaan. Mendengar usulan tersebut, Prabu Airlangga terkejut. Pasalnya, ia udah bersusah payah menghimpun negeri Kahuripan dan menaklukkan banyak wilayah, namun sekarang harus memecahnya jadi dua.

Namun, karena itu merupakan hanya satu jalan agar ke-2 anak lelakinya berhenti berselisih, Prabu Airlangga mendiskusikan usulan putrinya bersama dengan bersama dengan para punggawa (pejabat kerajaan). Setelah melalui beraneka pertimbangan, pada akhirnya usulan membagi negeri Kahuripan jadi dua kerajaan disetujui.

Orang yang akan membagi adalah Mpu Baradah. Mpu Baradah dikenal sebagai orang yang pandai dan memiliki cinta yang besar terhadap sesama. Ia termasuk sempat membantu Prabu Airlangga saat musuhnya, Calonarang, menyebar penyakit di Kahuripan.

Saat itu juga, Prabu Airlangga segera mengutus dua orang untuk berangkat menjumpai Mpu Baradah. Setelah mendengar pesan berasal dari Prabu Airlangga, Mpu Baradah sepakat untuk membagi Kahuripan jadi dua karena tidak dambakan rakyat menderita karena perang saudara. Mpu Baradah lantas membagi Kaharipan jadi dua kerajaan, yang satu bernama Jenggala dan yang satu diberi nama Panjalu atau Kediri.

Setelah pembagian negeri Kahuripan diselesaikan, Prabu Airlangga menganugerahi Mpu Baradah sebidang tanah yang lumayan luas. Tanah selanjutnya lantas dinamai Bhurara oleh Mpu Baradah. Bhurara berasal berasal dari kata bumi yang bermakna tanah, dan rara yang bermakna anak.

Bhurara sanggup diambil kesimpulan tanah yang diberikan raja kepada seorang anak atau orang yang berjasa kepada negara. Oleh masyarakat sekitar, nama Bhurara sering diucapkan Wurara atau Wurare. Pasalnya, di dalam bahasa Jawa sendiri, sering terjadi pertukaran terhadap huruf w bersama dengan huruf b. Lambat laun, nama Bhurara berubah jadi Blura dan seterusnya jadi Blora.