Daging Ayam Melonjak di Pasar Terkerek Diakibatkan Kenaikan Harga Jagung

Salah satu penyumbang inflasi pas ini adalah harga ayam broiler. Saat ini, harga jual daging ayam broiler biasanya di Rp 40.159 per ekor di Jakarta, dengan harga tertinggi capai Rp 55.000 per ekor
Kenaikan harga ayam di bulan Ramadan ini dipicu naiknya harga pakan gara-gara mahalnya harga bahan baku utamanya jagung.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemendag), Syailendra, mengatakan, kenaikan harga ayam di pasar pas ini tak terlepas dari kenaikan harga pakan ternak. Kenaikan harga pakan ini dipicu kenaikan harga jagung lokal hingga April yang capai Rp 4.263 per kilogram (kg). Kondisi ini memang anomali, pasalnya pas ini tengah berjalan panen raya jagung, namun justru harga jagung naik.

Menurut Kemendag, harga jagung itu sudah naik 6,52% dari biasanya harga jagung di bulan Maret 2021 yang sebesar Rp 4.002 per kg. Sebagai perbandingan harga jagung di bulan Januari tetap ada dikisaran Rp 3.845 per kg.

Harga jagung ini juga tinggi andaikan dibandingkan dengan harga acuan pemerintah dengan batas atas sebesar Rp 3.150 per kg dengan kandungan air 15% dan b batas bawah sebesar Rp 2.500 per kg dengan kandungan air 35%.
Menurut Syailendra, kontribusi jagung terhadap pakan ternak capai 40%-45%. Karena itu, harga pakan pun terkerek yang capai hingga Rp 8.200 – Rp 8.300 per kg. Harga ini jauh di atas biasanya harga pakan yang sebesar Rp 6.000 per kg.

“Jadi harga pakan pas ini begitu tinggi dan kalau dicermati di susunan harga pakan di broiler, di mana jagung itu umumnya dipakai kira-kira 40%-50%,” ujarnya didalam webinar yang diselenggarakan Pataka. Akibatnya harga ayam menurut Syailendra capai Rp 44.000 per kg di pasar yang sebabkan semua orang teriak.

Syailendra melanjutkan, kontribusi jagung terhadap kenaikan harga ayam di pasar benar-benar besar. Bahkan ia mengingatkan pas ini ketahanan stok jagung di perusahaan pakan hanya memenuhi 28-29 hari saja. Ia menjelaskan idealnya, stok jagung di perusahaan pakan itu memenuhi kebutuhan untuk dua bulan.

Perwakilan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Johan, mengakui pas ini pasokan jagung tetap kurang. Berdasarkan knowledge dari Direktorat Pakan, formulasi jagung baru capai biasanya 40% untuk semua pabrik. Padahal menurutnya, kebutuhan jagung untuk pabrik pakan itu lebih dari 60%. “Jadi industri pakan belum memenuhi kebutuhan,” imbuhnya.

Asisten Deputi Pangan Kementerian Koordinator Perekonomian Muhammad Saifulloh mengatakan, kenaikan harga jagung pas ini tak terlepas dari tidak stabilnya produk hingga belum ada mekanisme cadangan jagung.

Ia mengatakan, penanaman jagung tetap bergantung terhadap musim yang berdampak terhadap pasokan jagung yang berbeda setiap saat. Kemudian rantai pasokan jagung yang panjang juga sebabkan harga jagung banyak dikendalikan pedagang dan pengepul.