Hari Raya Idul Fitri Lebih Baik di Rumah Saja

Grafik perkembangan urusan positif covid-19 belum pun berkurang. Kemarin, malahan terdapat penambahan 1034 urusan dalam sehari yang adalah penambahan harian tertinggi. Untuk ketika bersamaan, keramaian justru marak di beraneka ragam wilayah Tanah Air belakangan ini.

Kekecewaan di kalangan para tenaga kesehatan yang bertugas menangani pasien covid-19 pula meruak. Cerminan atas kekecewaan tersebut secara spontan tersurat di sosial media dengan tagar #Indonesiaterserah.

dr Emilia Nissa Khairani dari RSUP Dr M. Djamil Padang, Sumatra Barat, mengucapkan adanya tagar tersebut adalah bentuk keputusasaan tenaga kesehatan atas maraknya kerumunan di ketika pandemi belum teratasi. Ia memaparkan tagar itu muncul ketika beredar foto-foto penumpang yang berdesak-desakan di Bandara Soekarno-Hatta sejumlah periode kemudian.

Setelah pengorbanan tenaga kesehatan selagi ini, seketika seluruhnya bagai sia-sia lantaran akumulasi kejadian dan kebijakan yang belakangan ini terjadi. Ini dirasakan tidak cuma kita para tenaga kesehatan, pun seluruh instansi di lapangan semenjak ada wabah.

Dia merasa miris ketika menjelang Hari Lebaran melihat seseorang masih beramai-ramai membeli tshirt di mal. Dokter dan perawat bekerja dengan beban kian berat, pasien kian tidak sedikit, dan personel rumah sakit kian sedikit.

Serupa itu pula, Emilia meyakini tenaga kesehatan tak ada yang menyerah. Tetapi, dirinya meminta warga tetap di rumah ketika Hari lebaran.

Hari Hendarto, dekan Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengimbau masyarakat pada tetap berada di rumah selagi Hari Raya Lebaran. Urusan tersebut bakal mencegah penyebaran covid-19 yang terus meninggi sejumlah hari ini.

Pulang kampung di tengah pandemi dapat memperbesar risiko penularan. Silaturahim dengan orangtua dan sanak saudara memang spesial. Namun jangan hingga justru dengan pulang kampung kita malah membawa dan menularkan virus ke kerabat tersayang di kampung halaman.

Dokter spesialis penyakit dalam tersebut bilang, bila masyarakat mampu menerapkan urusan tersebut, memiliki makna berpartisipasi membantu meringankan kegiatan tenaga kesehatan yang selagi ini sudah berjuang melawan covid-19.

Hargai para tenaga medis. Masyarakat mesti menyadari kalau upaya penghentian covid-19 mesti berbasis perkumpulan. Jadi, diharapkan peran dan kegiatan mirip masyarakat bersama tenaga medis pada memutuskan rantai penularan covid-19.

Nugroho Harbani, Ketua Ikatan Dokter Indonesia cabang Banyumas, pula meminta masyarakat lebih disiplin lantaran prosedur pengobatan bagi pasien covid-19 lumayan lama dan menelan ongkos besar. Bila membayar seorang diri dan tak ada bantuan pemerintah, seorang pasien bisa menghabiskan Rp30 juta sampai Rp50 juta.

Jangan Berpusat Pada Kepentingan Diri Sendiri

Seseorang yang pernah diisolasi akibat positif covid-19 di RSUD Sungai Lilin Sumsel pula mengucapkan pahitnya jadi pasien korona. Dua kali dites swab rasanya lara. Bayangin saja materi asing masuk dari hidung hingga ke tenggorokan. Sulit diungkapkan jikalau tak merasakan seorang diri. Jadi, jangan deh tes swab, lebih bagus mencegah daripada harus tes swab.

Ia berniat masyarakat bisa menjaga diri dan mematuhi anjuran pemerintah pada tak keluar rumah. Jangan egoistis. Bukan usah keluar rumah pada silaturahim kemana-mana ketika Hari lebaran. Lebih baik saling kirim parcel lebaran saja. Jadi tidak perlu keluar rumah.

Seorang lain yang juga mantan pasien korona di RSPAD Gatot Soebroto, mengucapkan pengalamannya. Vitalitas dia drop dan selama 3 jam memakai bantuan oksigen. Terlebih, saturasi pernapasannya sempat pun turun. Beruntung, setelah tersebut kedudukan dia terus membaik dan dokter pula mengisolasinya di rumah. Dia pula berpesan biar jangan hingga terinfeksi covid-19.

Sebab tersebut, jangan banyak keluar rumah terlebih dahulu. Jika lara, waktu penyembuhannya bikin frustrasi.