Ingin Hamil Tapi Kena TBC Kelenjar Getah Bening

Dokter Judi yang baik, saya(22) baru sekitar 3 bulan ini didiagnosis menderita TB kelenjar di ketiak sebelah kiri. Saya sedang mengonsumsi obat TBC yang diberikan, yaitu rifampisin, INH, etambuthol, vitamin B6. Yang ingin saya tanyakan, adakah risiko TB kelenjar dan pengobatannya tersebut terhadap kehamilan? Sebagai informasi saya baru saja menikah (2 bulan lalu), dan ingin segera memiliki momongan. Mohon penjelasan Dokter Judi. Terima kasih. Lisa Kurnia – Bandung.

Penyakit TBC dapat menular kepada orang di sekitar pasien dan memerlukan pengobatan yang cukup lama agar diperoleh kesembuhan yang optimal. Sebaiknya tidak hamil dulu karena penyakit tersebut dapat bertambah buruk saat hamil dan obat-obat anti TBC ada yang tidak boleh diberikan kepada ibu hamil. Saya sarankan, Ibu memakai metode kontrasepsi, misalnya pil kombinasi serta menanyakan kepada dokter spesialis paru yang menangani Ibu kapan dinyatakan sembuh.

Mulai sekarang silakan mengonsumsi tablet asam folat, satu tablet 4 mg setiap hari hingga hamil. Jika dalam pengobatan TBC ternyata terjadi kehamilan, segera ganti obat anti TBC nya, pilih yang aman bagi janin dan ibu hamil; kemudian lakukan pemeriksaan dengan dokter kandungan di Divisi Fetomaternal RS Hasan Sadikin Bandung.

Jika 3 bulan pascapengobatan TBC Ibu masih belum hamil, segera berkonsultasi dengan dokter kandungan Ibu untuk mencari sebab kenapa belum hamil. TBC dapat juga menyerang organ kandungan, misalnya selaput lendir rahim (endometrium) dirusak sehingga embrio tidak dapat tumbuh.

Mual Muntah Tanpa Sebab

Dokter Rifan, anak saya (2), sudah beberapa hari ini mual dan muntah tanpa sebab. Tapi anaknya tidak rewel atau gelisah sedikitpun. Dia masih aktif dan bermain seperti biasa. Apakah ada sesuatu pada pencernaan anak saya? Atau ini hanya keadaan biasa yang akan normal sendirinya. Mohon jawaban Dokter Rifan. Terima kasih, Dian Praptini – Palembang.

Mual muntah pada anak dapat disebabkan oleh barbagai hal seperti infeksi virus, perubahan jenis makanan yang dikonsumsinya, aliran balik isi lambung (gastroesofageal re­ uks/GER), tidak menyukai/bosan dengan jenis makanannya dan sebagainya. Bila kondisi ini tidak menyebabkan si kecil menjadi tampak sakit, dehidrasi atau tidak aktif, kemungkinan gangguan ini tidak memerlukan terapi khusus, biasanya pemberian makanan dalam jumlah sedikit namun dalam frekuensi yang lebih sering akan membantu mengatasi hal ini.

Baca juga “ kursus pelatihan berbahasa Jerman terbaik di Jakarta