Jadi Desainer Produk di Usia 15 Tahun

Berawal dari sebuah mimpi sederhana, yaitu kuliah di London, perempuan art dan design berkaca mata ini berhasil menciptakan sebuah konsep yang ia namakan ARTchipelago. Ia menggabungkan ketertarikannya terhadap bidang desain elemen interior dengan mimpinya untuk berkuliah di salah satu kota besar di Eropa tersebut. Perempuan kelahiran Jakarta, 8 Juni 1997, ini mengisahkan, kecintaannya terhadap dunia desain produk bermula saat ia memerhatikan kedua orang tuanya yang juga seorang desainer.

Dari situlah, orang tuanya mulai mengarahkannya untuk mengasah bakatnya di dunia desain dan menemukan ciri khasnya sendiri. Semangat kedua orang tuanya, diakuinya, juga sangat berpengaruh dan mendorongnya untuk terus berkarya. Keinginannya berkuliah di London pun menjadi salah satu yang memengaruhi setiap desainnya. Karya-karya buatannya lebih banyak berfokus kepada arsitektur dan kota-kota di negeri Eropa.

Pada usianya yang ke-15, ia menemukan konsep yang ia beri nama ARTchipelago, yaitu sebuah konsep dengan menghadirkan landmark atau ikon dari negara-negara atau kota-kota ternama di dunia. Melalui karya ilustrasi yang diimplementasikan pada berbagai media dan fungsi, di antaranya sarung bantal kursi. Konsep tersebut ia terapkan ke dalam berbagai produk elemen interior.

Di usia yang belia inilah ia lahir sebagai desainer produk yang telah memiliki ciri khas dan konsep yang matang. Perempuan yang bersekolah di rumah (home schooling) sejak kelas 10 ini berharap karyanya dapat meramaikan pasar home fashion di Indonesia. Selain itu, ia juga berharap karyanya nantinya dapat menjadi pilihan cenderamata bagi wisatawan yang berkunjung ke suatu negara atau kota di dunia.

AKTIF DI BELASAN PAMERAN

Keberadaan Ruhama di dunia desain produk patut diperhitungkan. Walaupun usianya yang terbilang sangat muda, pengalamannya dalam mengikuti pameran tak kalah dengan desainer profesional. Karyanya telah ikut serta dalam berbagai pameran dan banyak mendapat apresiasi positif dari berbagai kalangan, seperti dosen, seniman, desainer, mahasiswa, pejabat negara, masyarakat umum, dan media. Pameran pertama yang ia ikuti ialah Me Fest – Picture Me, di 1/15 Coffee, Gandaria pad Desember 2012 silam.

Mahasiswa angakatan 2014 Program Studi Desain Produk Universitas Trisakti ini juga ikut serta memamerkan karyanya yang berjudul “Bantal Ngopi Jakarta” dan menjadi karya mahasiswa terpilih untuk Indonesia Desainer – Indonesia International Furniture Expo 2015 (IFEX 2015). Pada IFEX 2015, karya ARTchipelago miliknya menjadi salah satu karya yang lolos kurasi oleh para kurator Indonesia Desainer.

Ia bercerita, pada awalnya, konsep yang ia submit bertema “Dream High and Catch It” itu berupa ilustrasi negara Inggris. Saat mendengar kabar bahwa karya tersebut lolos kurasi, para kurator memberi catatan bahwa karya yang dipamerkan harus berbau local culture atau Jakarta. “Dari sinilah akhirnya aku buat konsep dan karya baru yang berjudul Halo, Jakarta,” tuturnya saat ditemui di tengah kesibuk annya kuliah.

INGIN TERUS BERKARYA

Sambil meneruskan kuliahnya, dan tetap mengejar impian berkuliah di London, ia bertekad untuk mengembangkan lagi karya-karya ARTchipelago serta mengikuti berbagai kompetisi demi meraih penghargaan dan memperkenalkan konsep yang ia usung. Perempuan berkerudung ini berharap makin banyak wadah untuk memperkenalkan karya desain lokal di tanah air demi makin dikenalnya karya desainer Indonesia di kancah mancanegara. Dengan begitu, produk kreatif lokal pun jadi semakin berkembang.

Bangunan yang bertingkat seperti apartemen tentunya membutuhkan genset sebagai sumber listrik cadangan. Harga genset yang murah untuk apartemen bisa didapatkan dari suplier jual genset 1000 kva di Jogja. Salah satu suplier genset di Jogja adalah PT. Rajawali Indo yang memberikan harga diskon dan garansi di setiap pembelian genset silent unit baru.