Kualitas Udara Ruangan di Rumah Sakit Selama Pandemi

COVID-19 adalah penyakit problem pernapasan akut bersama tanda-tanda demam, batuk, dan sesak napas. Penyakit ini menyebar bersama sangat cepat karena penularan berasal dari manusia ke manusia lewat kontak erat dan droplet.

Orang yang paling berisiko tertular penyakit ini adalah orang yang kontak erat bersama pasien COVID-19 termasuk yang menjaga pasien COVID-19. Orang yang paling berisiko tertular penyakit ini adalah orang yang secara fisik terjalin dekat bersama penderita COVID 19, termasuk petugas kesegaran yang bekerja di tempat tinggal sakit.

Kualitas hawa ruangan di tempat tinggal sakit perlu diketahui kondisinya lebih-lebih untuk ruangan yang menangani kasus COVID 19 sehingga mampu langsung dilaksanakan pengendalian.

Melalui pengukuran mutu hawa ruangan lebih-lebih mikrobiologi maka kegiatan pengendalian mutu hawa didalam ruangan didalam rangka penurunan risiko penularan penyakit akibat mutu hawa yang tidak cukup memenuhi syarat.

Rumah sakit perlu mengendalikan mutu hawa didalam ruangan dan lakukan pemantauan secara berkala. Parameter yang perlu dipantau untuk menentukan mutu mutu hawa didalam ruangan tempat tinggal sakit adalah parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi.

Berdasarkan latar belakang di atas, perlu digambarkan mutu mikrobiologi hawa ruangan tempat tinggal sakit sebelum akan dan sesudah terjadinya pandemi Covid-19, bersama pakai design belajar observasional bersama pendekatan cross sectional yang dilaksanakan di tidak benar satu tempat tinggal sakit rujukan COVID 19 di provinsi Jawa Timur selama Desember 2019 -Juni 2020 sudah dilaksanakan pengukuran mutu hawa ruangan.

Parameter yang dilaksanakan kontrol adalah angka mikrobiologi udara, suhu, dan kelembaban di lebih dari satu area tempat penanganan kasus COVID 19.

Hasil kontrol perlihatkan bahwa biasanya jumlah mikrobiologi sebelum akan pandemi sebesar 46,31 CFU / m3 bersama suhu biasanya 27,64 oC dan kelembaban hawa 44,58%, namun terhadap waktu pandemi jumlah mikrobiologi.

Di hawa meningkat menjadi 64 CFU / m3 bersama suhu biasanya 27,77 oC dan kelembaban hawa lebih kurang 42,46%. Berdasarkan analisis statistik, terkandung perbedaan jumlah mikrobiologi sebelum akan dan selama pandemi di bangsal pasien COVID-19 (p value 0,00).

Peningkatan jumlah mikrobiologi sebelum akan dan selama pandemi disebabkan meningkatnya kegiatan perawatan pasien Covid19 di didalam ruangan, dan lebih dari satu pasien tidak kenakan masker selama pengobatan. Pasien yang tidak kenakan masker merupakan sumber pencemaran di area perawatan, seperti berasal dari saluran pernafasan, yang disemprotkan lewat pembersihan dan batuk.

Hal ini sejalan bersama jumlah pengaruhnya terhadap pasien mikrobiologi di area perawatan di tempat tinggal sakit. Studi lain perlihatkan bahwa kepadatan pribadi dan kegiatan penghuni berkontribusi terhadap konsentrasi mikrobiologis.

Indikator lingkungan fisik (suhu dan kelembaban) terjalin bersama konsentrasi mikroorganisme. Suhu dan kelembaban merupakan variabel yang mampu mendorong penularan Covid19 secara berkelanjutan. Berdasarkan observasi di tempat tinggal sakit, lebih dari satu pasien yang dirawat tidak suka pakai alat pelindung diri yang sesuai.

Saat pasien batuk, ia akan menyebarkan tetesan dan mengotori hawa ruangan. Hal inilah yang menjadi tidak benar satu penyebab meningkatnya jumlah mikrobiologi hawa di bangsal pasien Covid19. Penularan SARS-Cov-2 lewat hawa dimungkinkan terjadi.

WHO sudah menerbitkan pedoman untuk sesuaikan dan mengelola pusat pengobatan infeksi saluran pernafasan akut yang kritis sehingga mampu digunakan sebagai basic bagi tempat tinggal sakit untuk mengontrol mutu hawa ruangan di tempat tinggal sakit yaitu bersama pengaturan ventilasi yang baik.

Berbagai model langkah untuk mengontrol mutu hawa ruangan di tempat tinggal sakit selama pandemi Covid19, misalnya, pola aliran hawa yang dioptimalkan, aliran hawa terarah, tekanan zona, ventilasi pengenceran, sistem pembersihan hawa didalam kamar, ventilasi pembuangan umum, ventilasi pribadi, pembuangan lokal ventilasi terhadap sumbernya, menjauhi resirkulasi hawa dan kepadatan berlebih, filtrasi sistem sentral, Lengkapi ventilasi umum bersama lampu ultraviolet germisida, dan kontrol suhu didalam ruangan dan kelembaban relatif. Rekomendasi lain untuk mengurangi kontaminasi mikrobiologi adalah bersama memantau efektivitas sistem ventilasi dan penyejuk hawa (HVAC).

Jumlah mikrobiologi hawa didalam area pasien Covid19 selama pandemi mengalami peningkatan dibandingkan bersama situasi sebelum akan pandemi Covid19, perihal berikut berjalan karena kegiatan pemeliharaan yang meningkat.

Pasien yang tidak kenakan masker merupakan sumber pencemaran di area perawatan, apabila berasal dari saluran pernafasan yang disemprotkan lewat pembersihan dan batuk.

Oleh karena itu, tempat tinggal sakit diharuskan untuk mengontrol mutu hawa area perawatan bersama sesuaikan ventilasi hawa apabila pola aliran hawa yang dioptimalkan, aliran hawa terarah, tekanan zona, ventilasi yang difungsikan untuk pengenceran pencemar, sistem pembersihan hawa didalam kamar, ventilasi pembuangan umum, ventilasi pribadi, sistem hepa filter rumah sakit hawa tersentral, pengaturan temperature dan kelembaban ruangan.