Pemerintah Harus Segera Menerapkan Bioteknologi di Bidang Pangan

Indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya akan sumber daya alamnya yang tak terbatas, namun dengan fakta ini ternyata Indonesia juga berada di dalam posisi yang rentan atau rawan kekurangan pangan. Wah, kenapa bisa ya? Padahal negeri ini sangat luas dan kaya.

Hal ini biasa terjadi pada saat ada gangguan pada produksi baik yang disebabkan oleh iklim, penyakit tanaman hingga gangguan hama yang masih belum bisa diatasi oleh masyarakat Indonesia, jadi meski negeri ini kaya tapi kita masih belum bisa memaksimalkan apa yang negeri ini miliki ya, sayang sekali.

Dengan jumlah produksi beras sekitar 32,42 juta ton dari total luas panen 10,9 hektare saran sedangkan konsumsi tahunan masyarakat Indonesia adalah sekitar 29,78 juta ton. Sehingga hanya menyisakan 2,64 juta ton atau 3,08 persen saja dari seluruh cadangan pangan yang kita miliki.

Hal ini diperparah dengan jumlah luas lahan yang semakin hari semakin terbatas dikarenakan pembangun yang dilakukan makin marak dan jumlah penduduk yang naik dengan sangat pesat. Dan hal ini sendiri tidak diimbangi dengan sumber daya manusia atau SDM di bidang pertanian yang tidak memadai. Semakin hari semakin menyusut karena tidak ada yang ingin menjadi petani di antara generasi muda yang kita miliki. Hal ini menyebabkan petani masih menggunakan cara lama atau cara tradisional yang kurang efektif.

Padahal sekarang ini sudah ada teknologi tinggi yang digunakan untuk menghasilkan pangan. Dan sanggup untuk menjawab masalah yang negeri ini hadapi utamanya pada peningkatan produksi bahan pangan.

Teknologi ini disebut dengan bioteknologi.

Bioteknologi adalah upaya untuk untuk meningkatkan hasil pangan dengan melakukan rekayasa genetik.

Banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dari bioteknologi ini namun sayang Indoensia masih terbelakang dalam bidang ini, beberapa Negara maju sudah menggunakan teknologi ini sebut saja Amerika Serikat bahkan Brazil yang merekayasa genetik kedelai.

Bahkan Brazil kini dapat mensubsidi BBM dari hasil penjualan kedelai ke seluruh Dunia termasuk Indonesia.

Wah, sepertinya Indonesia harus banyak belajar dari Brazil ya.